Kisah Bang Evan Bertemu Abdul, Pedagang Keliling asal Batang Tarang

Abdul, berdagang keliling untuk menghidupi keluarganya di kampung. foto Hobby Makan

Sahabat Hobby Makan tentu tak asing dengan konten-konten ekspresimen sosial yang dilakukan Bang Evan. Kali ini Bang Evan dan tim berhasil menjumpai seorang pedagang manisan dan masker kain di salah satu jalan di Kota Pontianak.

Sore itu, Bang Evan tanpa sengaja melihat seorang pedagang yang berjalan kaki menjajakan dagangannya. Awalnya Bang Evan merasa takut melihat tampang penjual tersebut yang sangar dan berambut panjang.

Namun dengan keyakinan bahwa jangan pernah menilai orang dari penampilan, Bang Evan mantap tetap mendekati si pedagang. Agar tidak dicurigai, Bang Evan pun sengaja memarkirkan mobilnya jauh-jauh.

Ditemani seorang kameramen yang merekam video secara diam-diam, Bang Evan akhirnya bisa memulai perbincangan. Pedagang yang belakangan diketahui bernama Abdul Edi itu mengaku menjajakan barang dagangannya dengan berjalan kaki. Ia menjual manisan buah dan masker berkeliling Kota Pontianak.

Jarak antara tempat tinggalnya di Siantan, diperkirakan mencapai 20 kilometer dari tempat pertemuannya dengan Bang Evan saat itu. Seperti biasa Bang Evan lantas memborong dagangannya. Ada manisan jambu, bengkuang dan pepaya.

Selain jual manisan, si pedagang juga menjual masker kain. Bang Evan pun kembali membeli enam masker kain yang dijual.

Bang Evan salut dengan perjuangan Abdul Edi. Ayah beranak satu itu berjualan sejak pukul tujuh pagi. Barang yang dijualnya bukan milik sendiri, Abdul hanya membantu menjualkan. Sebagai upah, dari lima ribu rupiah harga satu kantong manisan, dia mendapat seribu rupiah.

Abdul bercerita sebelum bertemu Bang Evan ia sempat beristirahat di bawah pohon karena kecapain. Ditambah ia juga belum makan. Abdul biasanya baru akan makan ketika sampai ke rumah dan telah menyetorkan uang hasil dagangannya.

Di Pontianak Abdul hidup sebagai perantauan. Ia tinggal di rumah kontrakan. Kampung halamannya di Batang Tarang, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Ayah beranak satu itu berjualan sejak pukul tujuh pagi. Barang yang dijualnya bukan milik sendiri, Abdul hanya membantu menjualkan. Sebagai upah, dari lima ribu rupiah harga satu kantong manisan, dia mendapat seribu rupiah.

Menurutnya rasa letih berjalan kaki menempuh perjalanan yang jauh tak begitu terasa jika dilakukan sambil berjualan. “Jalan kaki kalau sambil berjualan tidak terasa,” ucap Abdul.

Tujuh tahun sudah ia menekuni jualan dengan berjalan kaki. Pendapatan per harinya pun tak pasti. Maka ketika Bang Evan memborong dagangannya dan membayar dengan nominal yang lebih dari harga aslinya, ia begitu senang. “Betul dak ni?, ikhlas?,” ucap Adul seolah tak percaya dan langsung menyalami Bang Evan usai ia menerima uang.

Tak hanya sekali memberikan sejumlah uang, Bang Evan menambahkan Rp100 ribu. Itu untuk membayar sisa masker yang tidak dibeli, agar Abdul bisa memberikan ke orang-orang yang membutuhkan selama perjalanan pulang.

Bang Evan berharap semua bisa mengambil sisi yang baik dari pertemuan dengan Pak Abdul. Meski kondisi Pak Abdul terlihat kurang sempurna karena jalannya agak pincang, namun sebagai kepala keluarga ia tetap berusaha mencari nafkah yang halal untuk anak istrinya.

“Seperti biasa Bang Evan selalu bilang buat teman-teman semua bahwa yang baik-baik datangnya selalu dari Allah SWT yang kurang baik selalu datang dari diri kita sendiri,” tutup Bang Evan.

Di akhir, ketika hendak pulang, Bang Evan dan tim tanpa sengaja melihat Pak Abdul membagi-bagikan masker jualannya. Pak Abdul terbukti menunaikan amanah Bang Evan dengan memberikan maskernya kepada padagang lain yang sedang berjualan di sepanjang jalan yang dilaluinya. (tim)

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on telegram

Kirim komentar

Nantikan terus informasi terbaru dari hobbymakan.asia

Website referensi kuliner para sahabat

To Top